Seks Tanpa Komitmen = Balas Dendam?

Itu benar-benar pertanyaan yang seketika melintas di kepala saya ketika mendengar alasan mengapa orang yang ‘bercurhat’ kepada saya itu melakukan perselingkuhan. Ini memang hal yang sudah biasa kita dengar. Perselingkuhan dibalas dengan perselingkuhan. Tapi untuk apa? Benarkah untuk membalas dendam? Dendam yang mana? Apa sih sebenarnya definisi dari balas dendam itu sendiri?

Jika seseorang memiliki rasa kecewa atau sakit hati kepada orang lainnya, mungkin akan tertinggal rasa dendam di hatinya. Tetapi yang mendendam kan dirinya sendiri? Jadi kenapa mesti pakai istilah balas dendam? Kata ‘dendam’ sendiri menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti : ‘berkeinginan keras untuk membalas’. Jadi kalau digabung dengan kata ‘balas’ maka jelas saja artinya menjadi tidak jelas. “Membalas keinginan keras untuk membalas” *hihi….

Anyway, I’m not here to represent the people from pusat bahasa, so be it. Use that ‘balas dendam’ terminology as much as anyone like! :)

Yang ingin saya tulis kali ini adalah mengenai alasan ‘balas dendam’ yang seringkali kita dengar ketika kita menemukan seseorang yang baru saja dikecewakan oleh pasangannya atau baru saja mengalami kegagalan dari hubungan yang dijalaninya, entah itu sebuah perkawinan atau masih dalam tahap pacaran, si perempuan kemudian dengan mudah membuka pintu bagi laki-laki yang mendekatinya. Yah, tidak semudah itu sih, tetapi setidaknya tidak sesulit ketika si perempuan sedang berkeinginan membina hubungan yang serius.

Tulisan saya kali ini mungkin tidak akan terlalu disukai banyak perempuan. Well, saya bilang ‘mungkin’, karena biasanya para perempuan tak suka jika diajak bicara blak-blakan mengenai apa yang sebenarnya mereka cari dari perselingkuhan atau hubungan mereka dengan beberapa laki-laki sekaligus. Para perempuan yang ingin dianggap modern akan mengatakan “ah, urusan one night stand saja diributkan” — padahal jika saja mau jujur, tak ada satupun perempuan yang demikian rela dirinya hanya menjadi pengisi satu dari banyak malam yang dimiliki oleh laki-laki. But wait a minute, mungkin ada, tapi itu hanya terjadi jika memang perempuan itu tidak memiliki ketertarikan penuh pada laki-laki yang mengisi satu malamnya itu.

Sejujurnya, naluri perempuan yang butuh perlakuan lembut dan perhatian akan tetap menginginkan pasangan tetap, bukan pasangan yang kapan saja bisa menemani mereka hanya untuk seks. Jika ada perempuan yang bisa mengatakan bahwa ia bisa hidup senang dengan banyak pasangan tidak tetapnya, saya berani diajak berhadapan untuk diyakinkan bahwa ia benar-benar menyukai itu!

Lalu, apa kaitannya dengan ‘balas dendam’ yang saya sebut di atas?

Secara langsung memang tidak ada. Tetapi dalih inilah yang seringkali dipakai para perempuan untuk mencari pemakluman atas tindakan yang dilakukannya. Jika ditanya ‘kenapa anda suka dengan hubungan tanpa komitmen dengan beberapa pria sekaligus?’ — maka jawaban mereka rata-rata ‘balas dendam’.

Yang lebih parah lagi, kalau ketika dalam hubungan sebelumnya masih perawan, lalu dengan alasan ‘balas dendam’ — jadi menjual diri! Kenapa mesti jual diri? Dendam karena ketika pertama melakukan tidak dibayar? *lol — kan cinta? :D

Mari kita sama-sama renungkan. Merenungkan balas dendam? Ya, silakan kalau mau, saya sih bukan mau mengajak merenungkan balas dendam, sedangkan kata ‘balas dendam’nya saja sudah tidak tepat! Haha! *just kidding*

Saya ingin mengajak merenungkan pelaksanaan dendamnya ini yang dilakukan dalam bentuk ‘tidur dengan laki-laki’ tanpa hubungan yang jelas ataupun melalui perselingkuhan. Sudah punya pacar baru, masih suka menerima tawaran atau godaan laki-laki yang jelas hanya ingin mendapatkan kenikmatan seks. Ow please, yang ingin berkomentar dari sisi agama berkomentarnya di tulisan lain saja ya? Saya tidak ingin memasukkan unsur agama dalam tulisan saya ini. Kita bicara dari sudut pandang yang jelas terlihat di depan mata kita saja dulu.

Sekali lagi, mari kita renungkan. Melaksanakan dendam, tapi kok dengan membiarkan diri berada pada suatu hubungan atau situasi yang makin membuat tidak nyaman? Benarkah dendamnya bisa tersalurkan dengan baik? Bukankah dalam pandangan umum pun, baik laki-laki atau perempuan yang suka membina hubungan dengan banyak lawan jenisnya, akan menimbulkan image negatif? Di mana pun, bukan hanya di negara kita ini. Trust me (or don’t), I’ve been doing some kind of research for this kind of information, dan ujungnya selalu berada pada posisi negatif bagi orang yang memiliki banyak partner ‘tidur’. Selain bisa menimbulkan penyakit menular, juga tidak baik bagi kesehatan mental.

Lalu, kalau bukan melaksanakan dendam, apa yang membuat mereka (para perempuan itu) mau melakukannya?

Eksistensi. Pengakuan. Rasa diinginkan. Pembuktian dan segala hal yang bisa membuat mereka sejenak merasakan bagaimana rasanya menjadi yang DIINGINKAN LAGI, meski itu hanya sementara saja!

Sebuah ungkapan jujur yang menyedihkan.

Perempuan yang baru saja mengalami kegagalan dalam suatu hubungan, biasanya akan melihat bahkan menilai kegagalan itu dari segi fisik mereka. Merasa tidak cantik lagi, merasa tidak seksi lagi, dan merasa tak cukup menarik perhatian pasangan meski dengan make up terbaik yang bisa mereka lakukan. Faktor-faktor inilah yang membuat mereka begitu mudah membuka diri ketika ada ‘tawaran’ untuk merasakan kenikmatan ‘untuk diinginkan’. That was so wrong, ladies! Itu semua semu!

Tidak semua hal yang berhubungan dengan gagalnya suatu hubungan cinta dikarenakan kecantikan fisik kita yang sudah memudar! Justru pada banyak kasus, yang terjadi adalah kecantikan luar yang dimiliki itu menjadi pudar karena kecantikan pribadi dari dalam sudah tak terlihat lagi!

Merasa sudah ‘aman’ karena sudah kawin atau pacaran, lalu bersikap seenaknya, tak lagi peduli pada rasa saling menghormati yang seharusnya tetap dijaga dengan baik. Tak lagi menjaga sikap, lebih sering membentak dan menunjukkan sifat-sifat asli yang tidak terlalu baik yang awalnya disembunyikan saat masih dalam tahap pengenalan. Tak ada lagi rasa saling percaya, hingga setiap saat hanya mengumbar kecemburuan dan tuntutan yang membosankan. Faktor-faktor inilah yang justru banyak membuat suatu hubungan menjadi tidak harmonis, dan ketika pasangan menemukan orang lain yang lebih nyaman untuk diajak ‘jalan bersama’, mulailah menyalahkan kondisi fisik yang sebenarnya justru tak terlalu menjadi masalah besar.

Menurut saya pribadi, jika seseorang mengalami kegagalan, ia harus mereview secara keseluruhan mengenai apa yang menjadi penyebab dari hancurnya hubungan yang dibina. Setelah masa-masa mereview itu dijalani dengan baik, maka akan timbul kesadaran untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang dimiliki. Dan itu semua bisa dilakukan hanya jika seseorang mau meluangkan waktu untuk dirinya sendiri tanpa perlu merelakan dirinya berada pada situasi semu mencari pengakuan bahwa dirinya masih menarik secara fisik dengan membuka jalan yang sangat mudah untuk berhubungan seks dengan berganti-ganti pasangan.

So, ladies. Anda yang merasa tersinggung dengan catatan saya, boleh marah pada saya. Tetapi tidak usah memaki, karena bisa jadi justru kebiasaan anda memaki itu yang membuat hubungan anda sebelumnya gagal ;)

Mari kita berpikir jernih untuk mengatasi setiap permasalahan yang muncul dari gagalnya hubungan yang sedang dibina tanpa perlu memakai dalih ‘balas dendam’ hanya untuk memperparah keadaan dengan merelakan hubungan seks yang belum tentu memenuhi kebutuhan akan rasa diinginkan itu. At the end, akan datang seorang pengganti yang benar-benar bisa menerima segala kekurangan dan kelebihan kita tanpa perlu membuktikannya melalui hubungan seks tanpa komitmen.

“To exist is to change, to change is to mature, to mature is to go on creating oneself endlessly. Let’s hope our soul bloom in love for all existence.”

Seks Tanpa Komitmen = Balas Dendam?
1 Comments and 1 Trackbacks

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>